Represntasi Heroisme Terhadap
Masyarakat Timur Tengah
dalam Film
Hollywood Air Force One
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA
Disusun oleh :
Dini Apriliana
2011041002
Ilmu Komunikasi
2012
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Media
massa televise menghadirkan tayangan film yang pertama kali ditemukan pada abad
ke-19. Kehadiran film merupakan respon
terhadap kebutuhan dan waktu luang di luar jam kerja bagi seluruh lapisan
masyarakat. Dengan demikian, jika ditinjau dari segi perkembangan fenomenalnya,
tidak menutup kemungkinan konten disetiap tayangan yang ada akan mempengaruhi
pemikiran, sikap, hingga tindakan audience dalam penerapan sehari-harinya.
Terbukti bahwa peran yang dimainkan oleh karakter film dapat membangun ideologi
yang sangat kuat. Film merupakan salah satu media penyebaran budaya yang tumbuh
di mana-mana. Film juga tergolong sebagai sarana hegemoni yang efektif bagi
pihak-pihak tertentu. Film telah berkolusi dengan industri media televisi serta
ideologi yang tertanam, banyak mencerminkan budaya dan faham kapitalisme pada
setiap pesan yang terselip dalam kontennya, sehingga akan berdampak pada
penciptaan “gaya hidup” di masyarakat.
Seperti
yang kita ketahui dari awal kelahirannya hingga fenomena kontemporer,
pertumbuhan industri perfiliman Hollywood mengalami kemajuan yang tiada henti.
Penelitian ini tertarik membahas posisi dan resistensi industri perfilman
Hollywood dan sudut pandang penyeragaman bawah sadar melalui pesan-pesan yang
disampaikan. Salah satu contohnya adalah film-film yang diproduksi oleh Amerika
selepas Perang Dunia II. Hollywood, bekerja sama dengan pemerintah, memproduksi
film-film yang digunakan sebagai alat propaganda pemerintah. Isi konten yang
selalu diperlihatkan adalah jalan cerita yang terpusat pada heroisme atau pihak
Amerika yang menyelamatkan dunia dengan menumpas musuh-musuh dari Negara asing.
Disamping
itu, persfektif ini juga memungkinkan penggunaan analisis historis matrealis
untuk melihat ke belakang pertumbuhan industri film nasional dan global yang
mempengaruhi fenomena kontemporer industri perfilman. Melalui penelitian
tayangan film Hollywood salah satu masalah yang menjadi perhatian public dan
isu hadirnya terpaan dalam konten-konten tayangan adalah kekerasan, rasisme,
kekuatan, dan kekuasaan di kehidupan manusia.
Hasil temuan di lapangan menujukkan
bahwa industri perfilman global lebih banyak berkembang di Amerika terutama
ketika Hollywood memasuki masa keemasan sistem studionya. Sejak itu teknologi
maupun genre film dunia di Negara dunia ketiga termasuk Asia dipengaruhi oleh
Hollywood. Tidak heran dengan kehadiran teknologi televise yang diikuti
perkembangan media global membuat industri perfilman dunia melakukan
pertunangan dengan media lain. Lalu kemudian dunia media menjadi global sejak
1990-an yang dikuasi oleh beberapa perusahaan besar (TNCs).[1]
Proses akumulasi capital yang dilakukan perusahaan besar ini membuat sturktur
pasar industri film dunia bersifat oligopolic.
Relasi yang muncul antara core (Hollywood) dengan Negara Asia (periferi) adalah
kencenderungan ketergantungan mereka terhadap supply film dari Hollywood.
Ketergantungan ini sengaja di-maintain oleh pemain-pemain kuat Hollywood yang
didukung oleh lembaga-lembaga ekonomi internasional serta armada distribusi
internasional yang kuat.
Selanjutnya,
Negara Amerika telah berhasil mendominasi pemikiran khalayak bahwa negara
mereka menjadi The king of power
dalam segala bidang. Aspek-aspek pembentuk kebudayaan dan ideologi seperti cara
berpakaian, kebiasaan, cara makan dan sebagainya akan menjadi patron Negara
lainnya (Timur) Misalnya, Amerikan mempunyai hobby bermain basket, naik motor
besar (Harley Davidson) dan makanan fast food. Hal tersebut berhasil dijual ke
seluruh dunia oleh kaum kapitalis. Gaya hidup tersebut kemudian diadopsi oleh
berbagai kalangan di seluruh dunia sehingga semakin menggelembungkan akumulasi
modal Amerika. Kita juga dapat mellihat beberapa contoh dalam budaya popular yaitu
film. Amerika memiliki produksi film Hollywood yang mendominasi perfilman
dunia. Salah satunya Walt Disney,
adalah film kartun yang popular dan menjadi raja pada produksi film animasi sampai saat ini. Disamping itu, film-film
perang juga menjadi budaya popular dan legendaries dunia seperti, Rambo,
Marvel, Captain Amerika,
1.2 Perumusan Masalah
1.
Pengambaran
Heronisme dalam film-film Hollywood
Hero
berarti “a civilian who voluntarily risk his or her own life, knowingly, to an
extraordinary degree while saving or attempting to save the live of another
person…(seseorang yang dengan sukarela dan sadar mengambil resiko terhadap
hidupnya sendiri untuk menyelamatkan orang lain)[2].
Namun untuk menjadi hero, orang tak selalu harus melakukan hal yang luar biasa
atau menciptakan karya besar. mengungkapkan dalam abad media, citra adalah
segalanya.[3]
Persepsi
orang terhadap apa diciptakan dan ditampilkan melalui film-film Hollywood juga
lebih sering disodori oleh persepsi “versi Amerika”, seperti ketika penciptaan
tokoh hero dan penjahat dalam film laga Amerika yang menampilkan sosok hero
adalah berkulit putih, Amerikan dan penjahat berkulit hitam, Asia, Arab, dan
Latin. Sehingga film Hollywood mempunyai kekuatan untuk membentuk realitas
bahwa hero adalah seorang kulith putih dan penjahat adalah kulit hitam, yang
pada akhirnya ideologi ditanamkan ialah ras kulit putih memiliki superioritas
dalam melawan para penjahatnya.
Pada
sebagian besar film-film Hollywood menggambarkan sesosok hero yang identik
dengan maskulinitas. Sosok hero yang ditampilkan pada umumnya adalah laki-laki
muda, kulit putih, tampan, dan atletis, contohnya adalah film Lawrence of
Arabia yang sangat jelas kelihatan karakter maskulinitasnya di dalam film
tersebut.
Symbol
hero dalam film-film Hollywood yang direpresentasikan melalui tokoh protagonist
lebih sering ditampilkan sebagai sosok yang kuat dengan tubuh berotot karena
seorang hero harus melakukan tindakan-tindakan berani dan berbahaya untuk
melindungi yang lemah.[4] Hal
ini bisa terlihat dalam film Hercules (1959), Assembly (2008), dan Saving
Private Ryan (1998). Secara fisik sudah menunjukkan bahwa mereka menggambarkan
seorang hero yang ditunjukkan melalui bentuk tubuh. Bentuk tubuh mereka yang
kekar, six pack dan badan ideal untuk mereka melakukan tindakan heronisme.
Seperti
yang kita ketahui, sebagian besar film Hollywood yang mengangkat heorisme dituangkan
berupa propaganda berbentuk film-film jenis perang yang pernah di produksi
Hollywood. Bisa kita lihat dengan banyak film-film heroism yang sudah
diproduksi Hollywood dari era 50-an hingga sekarang. Salah satu contoh yang
bisa diambil yaitu film terkenal yang dibintangi oleh Aktor ternama Silvester
Stallone yaitu Rambo atau First Blood. Film itu juga menggambarkan kisah
tentara Amerika, yang hanya sendirian mampu mengalahkan beberapa tentara
Vietnam. Hollywood mengambil kesempatan untuk menyebarkan pemikirannya atau
menrekonstruksi pemikirannya melalui film perang heroic tersebut dimana image
tentara Amerika yang buruk menjadi baik dan para penonton yang tidak sadar dan
kurang kritis akan beranggapan bahwa ternyata semua tentara Amerika itu hebat
dan baik atau mungkin beranggapan bahwa ternyata tentara Amerika tidaklah
seburuk yang diberitakan. Bahwa orang-orang yang berkulit putih itu adalah
pemimpin yang baik sedangkan orang-orang yang berkulit hitam hanya menjadi
pengikut saja.
2.
Representasi
orang-orang Timur Tengah dalam film Hollywood
Gambaran
masyarakat Timur Tengah, mengalami perkembangan yang beragam di dalam media
massa, terutama dalam film-film karya Hollywood. Menurut Jack Shaheen, “Ketika
ini berhubungan dengan karakter Arab dalam film Hollywood hanya memiliki satu
macam : Arab yang buruk.”[5] Pendapat
tersebut juga di dukung dari Sulaiman Arti dengan jurnalnya yang berjudul “The
evolution of Hollywood’s representation of Arabs before 9/11 : the relationship
between political events an the notion of ‘Otherness’.” [6]
Pada
awalnya masyarakat Timur Tengah salah diidentikkan dengan masyarakat yang
kental hubungannya dengan benda-benda bersifat magis. Mereka masuk ke dalam
jajaran film-film dongeng dan fantasi. “McAlister mengingatkan kita terhadap
pengaruh dari Orientalisme khususnya pada periode ini, dalam menciptakan sebuah
gambaran oleh Amerika yang telah merepresentasikan Orient sebagai bahan dalam
buku anak-anak dan film-film popular” (2005, p.8), “dunia fantasi yang
dikatikan dengan karikatur orang Arab yang lucu” (2005, p.9).[7]
Pada
tahap kedua, setelah masa perang dunia kedua. Dalam masa-masa ini, Negara Timur
Tengah lebih diasosiasikan dengan tanah suci. Film-film yang bergubungan dengan
tanah suci Israel mulai mucul, seperti El-Cid (1962), The Ten Commandments
(1956).[8]
Sehingga penggambaran yang paling tepat pada kurun waktu itu adalah konstruksi
Kitab suci yang berhubungan dengan munculnya Israel sebagai tanah suci.
Lalu
pada tahap ketiga, Amerika membentuk steorotip yang baru dalam media. Dalam
periode ini media Amerika khususnya film-film Hollywood, mempresentasikan Timur
Tengah sebagai sosok “asing”. Masyarakat Timur Tengah digambarkan sebagai ancaman
dan mereka tergabung dalam melawan kekerasan dari Barat dan aliansi dari
Israel. Dalam tahap ini Amerika selalu mengulang-ulang pandangan dalam media,
bahwa sekali lagi bangsa Timur Tengah adalah ancaman yang nyata dan bersatu
dalam memusuhi dunia Barat. Dimulai pada tahap ini, film-film yang bertemakan
politik dan peperangan mulai popular dalam
dunia layar lebar.
Dalam
film-film Hollywood, Amerika selalu digambarkan pelindungi masyarakat Timur
Tengah dari teroris dan radikalis Timur Tengah. Peningkatan terorisme Timur
Tengah menjadi semakin factual melalui film Holywood “The Air Force One” (1997),
dimana masyarakat Timur Tengah membajak pesawat Presiden Amerika Serikat yang
melintasi samudera pasifik dengan kepentingan politik tertentu. Film ini
mengisahkan aksi heroik James Marshall, Presiden AS yang berhasil menggagalkan
usaha pembajakan pesawat Air Force One oleh teroris. Film ini secara eksplisit
menunjukkan bagaimana sarat dengan politis, karena mengambil setting
penangkapan seorang tokoh radikal Kazakhstan.
Dengan
berakhirnya Perang Dingin, Hollywood memfokuskan bangsa Timur Tengah khususnya
Arab/Muslim sebagai musuh dari aliansi Amerika, yakni Israel. Semenjak itu,
Hollywood membuat genre film thriller yang
tidak hanya mencetuskan Arab sebgai karakter yang kejam dan berbahaya, tetapi
juga menampilkan mereka pada plot utama. “Sebenarnya, deskripsi Arab yang
disajikan hanya untuk mengontraskan kebesaran dari Amerika dengan
keterbelakangan dari bangsa Arab yang direpresentasikan dalam film seperti
serial Delta Force (1986-1991) yang dibuat di Israel dan juga didanai oleh
Israel”[9]. Hingga
saat ini-pun, film-film Hollywood selalu menunjukkan dan mencap masyarakat
Timur Tengah & Muslim sebagai penjahat internasional yang mengancam dunia.
1.3 Kerangka Pemikiran Teori
1.
Teori
Hegemoni Antionio Gramsci dalam Ranah Perfilman Hollywood
Antonio
Gramsci (1891-1937) merupakan tokoh eksponen Marxisian yang pemikiran-pemikiran
banyak dipergunakan dalam studi kebudayaan di Indonesia. Dalam bukunya Prison
Norebooks (1929-1933), gramsci mematahkan tesis utama Marxisme bahwa dominasi
kekuasaan tidak selamanya berakar pada ekonomi belaka, melainkan juga karena
akar-akar kebudayaan dan politik. (Suhariyadi, Aplikasi teori Antoni Gramsci
dalam kajian sosiologi sastra). Dalam focus analisis Gramsci, bagaimana
mematahkan penguasaan kesadaran melalui jalan pemaksaan dan kekerasan; dan
kedua, penguasaan lewat jalan hegemoni, yaitu kepatuhan dan kesadaran para
elemen masyarakat. Menurutnya, keberhasilan kaum elite menyebarkan kekuasaan
pengaruh yang hegemoni ini karena didukung oleh organisasi-organisasi
infrastruktur yang terkait didalamnya, karena faktor kutural dan politis. Gramsci
menjelaskan adanya perbedaan antara konsep “dominasi” dan “hegemoni”, yang mana
dominasi merupakan model penguasaan yang ditopang oleh kekuatan fisik,
sedangkan hegemoni adalah model penguasaan yang lebih halus, yaitu secara
ideologis. Hegemoni adalah sebuah kemenangan yang didapatkan melalui mekanisme
konsensus (kesepakatan bersama), dibanding melalui penindasan terhadap kelas
sosial. Dengan kata lain, penguasaan dilakukan tidak dengan kekerasan,
melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat.
Masih
menurut Gramsci, ia berperspektif bahwa kata kunci hegemoni yaitu sebuah sistem
pemerintahan suatu Negara yang didasarkan pada pembentukan atau pembinaan
consensus melalui kepemimpinan budaya. Artinya, kelompok-kelompok yang
terhegemoni menyepakati nilai-nilai ideologi penguasa. Gramsci mengartikan
hegemoni itu sendiri sebagai praktik kepemimpinan budaya yang dilakukan oleh
golongan berkuasa.[10]
Gramsci menggunakan istilah
”hegemoni” untuk mengacu
pada cara di
mana kelompok dominan
dalam suatu masyarakat mendapatkan dukungan
dari kelompok subordinasi melalui proses ”kepemimpinan” intelektual dan moral
(Gramsci, 1971: 75). Gramsci menganggap
budaya sebagai tempat
terjadinya pergulatan antara usaha
perlawanan kelompok lemah
dari dominasi kelompok dominan dalam masyarakat.
Analisis
Gramsci mengenai kapitalisme melihatkan serangkaian peran kaum intelektual yang
bekerja atas dasar kapitalisme dengan menempuh kepemimpinan cultural dengan
persetujuan massa. Massa tidak melahirkan ideologinya sendiri, melainkan
dibantu oleh elit (kelompok yang berkuasa) yang disebutnya sebagai kelas
intelektual.
Dengan
adanya kemajuan perkembangan teknologi komunikasi massa, media massa pun telah
sangat maju. Dalam konteks ini, media ikut campur tangan dalam kehidupan kita
secara lebih cepat daripada yang sudah-sudah dan juga memperpendek jarak antara
bangsa-negara. Ada berbagai macam ruang dimana manusia dapat saling menyebarkan
informasi dan memperoleh informasi. Menciptakan ideologi dan kemudian
menyebarkan ideologi. Dewasa ini, saluran informasi tidak hanya didomoniasi
oleh lembaga atau institusi resmi saja namun juga personal. Arus homogenisasi
yang dibawa arus globalisasi seakan membuat media massa saat ini menjadi
seragam, seakan pikiran kritis mereka telah tunduk pada pasar. Contoh lain juga
dapat kita saksikan pada film-film Hollywood yang telah mengambil alih beberapa
fungsi sosial manusia (masyarakat).
Film
tidak hanya sebatas hiburan untuk mengisi waktu luang, namun ia juga dapat
membentuk trend dan pola pikir masyarakat. Sekarang ini eksploitasi dunia
perfilman Hollywood telah menuju kearah penciptaan supermasi media yang
mengancam keberadaan cara pandang objektif dan ruang publik. Hal ini sesuai
dengan pandangan Teori Hegemoni; peran media bukan lagi sebagai pengawas
pemerintah, tetapi justru menopang keberadaan kaum kapitalis dengan menyebarkan
pemikiran-pemikiran mereka.
Dengan
adanya Hegemoni budaya, lahirlah proses imperialisme budaya, sehingga menunjang
terjadinya ‘penjajahan’ dalam segala aspek kehidupan.[11] Hal
tersebut juga dapat kita rasakan dari dominasi budaya barat dalam
merepresentasikan kekuatan mereka, dan menyatakan bahwa budaya mereka adalah
budaya adiluhur dunia. Masyarakat khususnya Negara-negara berkembang dipaksa
untuk menjadi bagian dari budaya yang dominan tersebut. Kita dapat melihat hal
ini dari berapa banyakanya film-film Hollywood yang mendominasi tayangan televise
& biskop kita. Biasanya masyarakat dunia ketiga tidak menyadari proses
imperialisme budaya yang terjadi. Dan terkadang realitas yang disuguhkan dalam
film-film Hollywood seakan menjadi realitas semu. Realitas fiktif yang dapat
menggiring masyarakar pada image tertentu. Realitas tersebut tentunya telah
dimuati oleh suatu kepentingan.
2.
Cultural
Studies
Cultural Studies merupakan kritik
khas Inggris terhadap budaya kontemporer di dalam marxisme Barat.
Cultural studies juga memiliki akar gagasannya dengan Marxis mengenai
masyarakat dan telah berhasil dalam menyususn gagasan-gagasannya ke berbagai
interpretasi kesusastraan (histories) dan antropologis yang pada akhirnya
melahirkan berbagai perdebatan terus-menerus pada masa pascaperang dunia II.
Hingga pada akhirnya, Cultural Studies menjadi sebuah kajian yang memahami
bagaimana fenomena masyarakat kontemporer seperti yang nampak pada budaya bob,
media, sub-culture, gaya hidup, konsumerisme, identitas lokal dan sebagainya[12].
Fenomena
kontemporer secara nyata ditandai oleh menguatnya budaya massa melalu media
komersil, khususnya media televisi. Disamping itu, tumbuhnya media-media baru
yang menciptakan perubahan teknologi komunikasi dan informasi serta adanya isu
globalisasi yang merupakan gejala fenomena masyarakat kontemporer. Pada tahap
kajian, Cultural Studies sering juga disebut sebagai wilayah kajian
lintas-disiplin, multi-disiplin, pasca-disiplin, atau anti-disiplin. Dalam
berbagai ilmu disiplin diatas, hal tersebut merupakan fenomena pascamodern dari
dalam dunia akademis mengenai kaburnya batas-batas antar-disiplin. Hal ini baik
adanya karena seringkali “displin” hanya merupakan istilah dalam mengkhususkan
sebuah kajian. Cultural Studies menarik gagasan tentang perlintasan antara
teori dengan tindakan. Teori ini, memproduksi pengetahuan teoritis sebagai
suatu praktik politis. Terdapat pandangan bahwa, pengetahuan tidak pernah
menjadi sebuah fenomena netral atau obyektif, melainkan sebagai persoalan dari
mana, kepada siapa dan dengan tujuan apa seseorang itu berbicara atau
bertindak.[13]
Sifat dari lintas-metode adalah sebuah ciri dari cultural studies, namun hal
yang lebih berperan sentral disini adalah peran intelektual didalam perubahan
itu sendiri.
Kajian
yang terkandung di Cultural Studies dalam ranah komunikasi massa, bukan hanya
sebuah hal memfokuskan untuk membahas mengenai media serta dampak dimasyarakat
saja, namun juga berusaha mengkaji era postmodern yang membahas mengenai
isu-isu kontemporer komunikasi dari segi budaya yang menjadi salah satu
fenomena komunikasi[14].
Berdasarkan kajian komunikasi massa, ada sebuah pendangan alternative yang mana
cultural studies merupakan salah satu pandangan yang selama ini dapat membantu
untuk mengembangkan serta memperkaya sudut pandang para peminat komunikasi
dalam memahami realitas dan kebudayaan sebagai suatu hal yang saling berkaitan.
Cultural
studies berusaha menujukan karakter yang terkonstruksi berupa teks-teks
kebudayaan dan berbagai mitos serta ideologi yang tertanam didalamnya, terlebih
juga mengharapkan adanya posisi-posisi subjek yang terlahir nantinya. Sebagai
pandang teori yang politis, cultural studies diharapkan bisa mengorganisir
sehingga dapat membentuk kelompok yang akan menjadi suatu aliansi politik
kebudayaan. Lalu dari segi metode penelitian komunikasi, cultural studies ingin
memperkuat posisi etnografi, pendekatan tekstual (semiotika dan teori narasi)
serta kajian-kajian resepsi/konsumsi sebagai suatu metoe yang lebih relevan
untuk diterapkan dalam ilmu sosial.
2.1 Film Hollywood di Tanah Air Dalam
Persfektif Cultural Studies
Bukan
rahasia umum lagi bahwa film adalah sebuah komoditi pencetak uang yang cukup
menggiurkan untuk dijadikan bisnis yang cukup menjanjikan. Tidak dipungkiri
bahwa bisnis ini adalah bisnis yang cepat berkembang di era sekarang.
Perkembangan ini serta merta didukung oleh kemajuan teknologi dalam dunia
perfiman, terutama di bidang produkis dari waktu ke waktu yang membuat
pergeseran dalam pembuatan sebuah film. Film dapat berguna dalam berbagai
aspek, yaitu entertaining, sarana edukasi dan propaganda politik, semua menjadi
satu kesatuan dengan titik balik komersialisasi yang besar-besaran. Tentunya
yang kita lihat saat ini, mengacu pada sebuah Industri film yang bisa dibilang
menguasi pasar perfilman dunia yaitu Hollywood yang berasal dari Negara Amerika
Serikat. Distribusi film-film karya Hollywood sudah mencapai sebagian besar
penjuru dunia yang tentunya mendatangkan keuntungan yang banyak terhadap
Hollywood berserta orang-orang yang berkecimpung di industri film Hollywood.
Seperti
yang kita ketahui bahwa film Hollywood tidak pernah absen dari tayangan bisokop
kita bahkan tak kalah stasiun televise juga menjadi sasaran penayangan
film-film Hollywood. Film-film Hollywood ini seolah telah menjadi sajian
santapan sehari-hari dalam kehidupan kita. Kita dapat melihat dari tayangan
yang di sajikan pada channel televise kita, seperti Trans TV yang menyajikan Bioskop Trans TV setiap malam
mulai pukul 19.00 WIB hingga dini hari. Hampir seluruh Program-program yang
disajikan dalam Bioskop Trans TV adalah film yang berasal dari Hollywood.
Daftar penayangan film Hollywood tersebut ternyata direspon banyak oleh
masyarakat. Ratting tayangan film Hollywood menjadi meningkat drastis di ranah
Televisi Indonesia. Dengan kata lain, tayangan film Hollywood menjadikan kekuatan
dan daya tarik pada siaran telvisi. Hal ini menjadi panutan kepada channel-channel
televise lainnya, yang mana menyangkan film-film Hollywood untuk meraup
keuntungan institusi media.
Disamping
tayangan televise, tayangan bioskop-bioskop-pun di tanah air juga tak kalah
untuk menyajikan film Hollywood. Hal ini dapat kita lihat pada tayangan
dibioskop yang sering memutar bahkan memakai 2-3 studio untuk menayangkan film
Hollywood yang sedang booming. Ditambah
lagi dengan kemajuan teknologi dengan format 3D yang baru-baru ini muncul pada
film-film Hollywood yang beredar di bioskop. Lagi-lagi menjadi trend masyarakat
untuk menikmaati dan menjadi sensasi menonoton film dengan efek yang lebih
nyata ketimbang dengan format biasa (2D). Kebayakan film 3D yang disajikan
berasal dari film Hollywood, yang mana efek yang diberikan dalam karya film tersebut
menjadi hal gandrungin banyak masyarakat.
1.4 Representasi Ideologi dalam
Film Air Force One
Karya-karya
film Hollywood sendiri memang sudah banyak diakui dunia, dan begitu memukau
tapi bila ditelaah lebih dalam mengenai film-film Hollywood sesungguhnya adalah
sebuah penyebaran dan penyeragaman ideologi yang dibentuk melalui sebuah film.
Secara umum, film-film Hollywood merepresentasikan ideologi Amerika, yakni
ideologi kapitalis. Ideologi tersebut mempengaruhi pangsa pasar untuk ikut
menonton film tersebut. Suatu film bisa mengandung unsure politik (kekuasaan),
ideologi, sosial, budaya dan juga keagamaan. Sebuah esai ditulis oleh Jean-Lue
Comolli dan Jean Narboni, menyangkut Film/Ideologi/Kritik. Mereka berpendapat
bahwa setiap film adalah bagian dari sistem ekonomi dan juga bagian dari sistem
ideologi. [15]
Tipikal
superhero yang dibentuk oleh pencipta film Air Force One, yang kemudain di
adaptasi oleh sutradara lewat kisahnya. Air Force One. Saat pesawat elit ini
mengankut Presiden Amerika Seritkat yang melintasi samudera pasifik, dibajak
pleh sekelompok teroris yang memilki kepentingan politik tertentu. Pesawat
tersebut baru saja pulang dari Moskow setelah Presiden menyampaikan pidatonya
sebagai jawaban atas ditangkapnya pemimpin Kazakhstan. Para teroris yang
menyamar menjadi wartawan ini menyelinap ke pesawat dalam penerbangan kembali
ke Amerika Serikat. Aksi teroris tersebut bertujuan untuk menyandera presiden
AS sebagai aksi balasan atas ditangkapnya pemimpin mereka. Gibbs (Xander
Berkeley) sebagai agen rahasia Amerika yang bekerja sama dengan para teroris
Rusia dan membunuh beberapa agen rahasia yang menjaga gudang senjata pesawat,
sehingga memungkinkan Korshunov (pemimpin terorisme) dan anak buahnya untuk
mengambil senjata di gudang agar dapat menguasai pesawat.
Saat
aksi para teroris membuat gaduh dan mengamcam nyawa orang-orang yang berada
dialamnya, para pilot mencoba mendaratkan pesawat di Pangkalan Udara Ramstein
di Jerman, namun tewas di tembak teroris, lalu para teroris pun mengambil alih
kendali pesawat. Saat semua penumpang disandera, Agen rahasia AS mengambil
Marshall ke POD agar ia dapat melarikan diri dari pesawat. Semua para penumpang
percaya bahwa Marshall telah melarikan diri lewat POD tersebut. Namun, ternyata
Marhsall bersembunyi di dalam kargo dan menunggu situasi yang pas untuk
menyelamatkan anak, istri dan para sandera.
Korshunov
mengkontak Wakil Presiden Amerika Serikat Kathryn Bennet (Gleen Close) akan
mengancam membunuh sandera setiap jam-nya sampai Radek di lepaskan. Sementara
itu, tanpa sepengetahuan para pembajak, Presiden Marshall menelepon Gedung
Putih melalui telepon satelit yang berada di tas penumpang dalam kargo. Ia
mengingatkan Bennett untuk tidak bernegosiasi dengan teroris. Ketika Marshall
hampir berhasil menyelamatkan keluarga dan para sandera, Marshall tertangkap
oleh para teroris lalu ia pun dipaksa untuk menghubungi Bennett. Bannet
diminta untuk menghubungi Presiden Rusia untuk mengeluarkan Radek.
Persetujuannya pun di kabulkan. Tetapi Marshall tidak pernah kehabisan akal
untuk mencari jalan keluar, ia mengambil pecahan beling yang berada dilantai
dan memotong ikatan tali ditangannya. Ia pun berhasil melakukannya, lalu dengan
cepat ia menembaki sebagian teroris yang menjaganya. Disamping itu, ia
mempunyai rencana untuk terjun darurat menggunakan parasut bersama dengan
keluarga dan para sandera lainnya. Sebagian sandera pun berhasil terjun darurat
tanpa kecuali anak, istri dan sisa dari agen rahasia AS. Ketika Marshall
mencoba menyelamatkan istrinya dengan parasut, Korshunov menarik istrinya dan
menyodorkan pistol kebagian kepalanya. Ia mencancam jika Marshall berani
melarikan diri tanpa membebaskan Radek, tidak segan-segan ia menembak istrinya.
Marshall pun diam dan berpikir bagaimana cara untuk membunuh Moshunov. Akhirnya
Marshall begulat dengan Korshunov, ia mencoba melilitkan tali parasutnya
keleher Korshunov lalu membuka parasutnya sehingga parusut terbuka dan mencekik
Korshunov serta mendorongnya keluar pesawat.
Ketika
Radek menuju pintu keluar penjara dan dijemput oleh Helikopter Rusia, Marshall
dengan segera kembali ke ruang komunikasi pesawat untuk mengumumkan bahwa
kebebasan Radek dibatalkan karna teroris Rusia telah membajak pesawat Air Force
One. Pengumuman pun disiarkan lewat speaker penjara yang pasti Radek
mendengarnya, sehingga ia mencoba lari sekecang-kencangnya agar cepat masuk
kedalam helicopter namun, aksinya pun gagal, Radek ditembak oleh militer AS.
Lalu pada akhirnya, Marshall, anak & istrinya serta sebagian agen
rahasianya berhasil diselamatkan.
1.5 Kesimpulan
Melalui
pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam memahami peran media televise
melalui tayangan film Hollywood adalah hal yang patut diperhatikan, bahwa
adanya sebuah Hegemoni yang mendominasi pemikiran masyarakat serta menjadi
sebuah fenomenal yang juga terkait dalam proses cultural studies. Proses
ideologi dan cultural ini terjadi dimana media merepresentasikannya melalu film
Hollywood hingga diterima oleh audience. Proses ini tentunya terjadi dalam
ranah yang penuh dengan kepentingan dan kontestasi ideologi.
Banyaknya
ragam kelompok berdasarkan gologan ras, kebudayaan, sukubangsa dan keyakinan
termasuk juga jender, perbedaan antara siapa ‘saya’ dan siapa ‘dia/kamu’ dan
antara siapa ‘kami’ dan siapa ‘mereka’ jelas batas-batasnya, dan selalu diulang
dan dipertegas melalui sebuah cerita pada film. Melalui film, stereoptip terus
dikembangkan dan menjadi mantap dalam suatu kurun waktu yang tidak terbatas.
Disini media menjalankan praktik hegemoni. Melalui film Air Force One
mengungkapkan bahwa pandangan ideologi ini berpaham hegemoni. Ideologi tersebut
sengaja disebarkan melalui cerita terorisme tentang pembajakan pesawat AS yang
mengambil sosok figure Timur Tengah sebagai ancaman dunia. Sehingga secara
tidak sadar pemahaman dan penilaian masyarakat terhadap masyarakat Timur Tengah
menjadi seragam melalui tayangan film tersebut. Sehingga dengan tulisan ini,
diharapkan agar bagaimana seharusnya masyarakat lebih dapat kritis untuk
memahami ideologi yang didominasi dalam film dan kepentingan kaum elite.
Referensi
·
Baran,
Stanley J. &
Dennis K. Davis. (2010). Teori Komunikasi Massa. 5th
ed. Penerbit Salemba Humanika, Jagakarsa.
·
Carey, James W. 2002. A Cultural
Approach to Communication, dalam Mcquail,
Denis. McQuail’s Reader
in Mass Communication Theory, Part
II: Conceptual Issues
and Varieties of
Approach. Sage Publications, London, hal 36-45.
·
Gramsci,
Antonio. 1971. Selections
from Prison Notebooks.
London: Lawrence & Wishart.
·
McQuail,
Denis. 2002. McQuail’s
Mass Communication Theory
4th Edition. London: Sage Publications.
·
Gramsci, A. 1971. Selections from the prison notebooks of Antonio Gramsci. Disunting oleh
Quintin Hoare & Geoffrey Nowell
Smith. London: Lawrence and Wishart.
·
Chris Barker. Cultural Studeis, Teori
dan Praktik. Bentang Pustaka, Yogyakarta, Februari
2005.
[1] Novi
Kurnia, Industri perfilman Indonesia: analisis ekonomi politik terhadap
industri perfilman Indonesia dalam persfektif world system theory (http://lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=107398&lokasi=lokal)
[2] )” (Gibson, et
all, 2007: 73 dalam www.proquest.com/pqdauto diakses tanggal 15 Desember 2012)
[3] Idi Subandi
Ibrahim (2006)
[4] (Adi, 2008:
104).
[5] (Shaheen, 2001).
[6]
Diakses pada tanggal 15 Desember 2012, http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=0&submit.y=0&qual=high&fname=/jiunkpe/s1/ikom/2011/jiunkpe-ns-s1-2011-51405142-20077-mitos-chapter2.pdf
[7]
Ibid.
[8]
Ibid
[9]
(Boggs & Pollard, 2006, p. 338
[10]
Muhadi Sugiono, Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga,
(Jakarta: Pustaka Pelajar, 2006)
[11]
Tuti Widiastuti, Cultural Production: Peran Media Pada Produksi Budaya Massa,
(2009).
[12] Stenley
J. Baran dan Dennis K. Davis, Teori
Komunikasi Massa, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), h. 255
[13] Ibid., h. 269
[14] Ibid., h. 270
[15]
(Saul
Landau, The Film Industry : Business and Ideology.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar