Selasa, 23 Juli 2013

Represntasi Heroisme Terhadap Masyarakat Timur Tengah dalam Film Hollywood Air Force One



Represntasi Heroisme Terhadap Masyarakat Timur Tengah
dalam Film Hollywood Air Force One

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA

Disusun oleh :
Dini Apriliana
2011041002
Ilmu Komunikasi
2012

PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah

Media massa televise menghadirkan tayangan film yang pertama kali ditemukan pada abad ke-19.  Kehadiran film merupakan respon terhadap kebutuhan dan waktu luang di luar jam kerja bagi seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, jika ditinjau dari segi perkembangan fenomenalnya, tidak menutup kemungkinan konten disetiap tayangan yang ada akan mempengaruhi pemikiran, sikap, hingga tindakan audience dalam penerapan sehari-harinya. Terbukti bahwa peran yang dimainkan oleh karakter film dapat membangun ideologi yang sangat kuat. Film merupakan salah satu media penyebaran budaya yang tumbuh di mana-mana. Film juga tergolong sebagai sarana hegemoni yang efektif bagi pihak-pihak tertentu. Film telah berkolusi dengan industri media televisi serta ideologi yang tertanam, banyak mencerminkan budaya dan faham kapitalisme pada setiap pesan yang terselip dalam kontennya, sehingga akan berdampak pada penciptaan “gaya hidup” di masyarakat.
Seperti yang kita ketahui dari awal kelahirannya hingga fenomena kontemporer, pertumbuhan industri perfiliman Hollywood mengalami kemajuan yang tiada henti. Penelitian ini tertarik membahas posisi dan resistensi industri perfilman Hollywood dan sudut pandang penyeragaman bawah sadar melalui pesan-pesan yang disampaikan. Salah satu contohnya adalah film-film yang diproduksi oleh Amerika selepas Perang Dunia II. Hollywood, bekerja sama dengan pemerintah, memproduksi film-film yang digunakan sebagai alat propaganda pemerintah. Isi konten yang selalu diperlihatkan adalah jalan cerita yang terpusat pada heroisme atau pihak Amerika yang menyelamatkan dunia dengan menumpas musuh-musuh dari Negara asing.
Disamping itu, persfektif ini juga memungkinkan penggunaan analisis historis matrealis untuk melihat ke belakang pertumbuhan industri film nasional dan global yang mempengaruhi fenomena kontemporer industri perfilman. Melalui penelitian tayangan film Hollywood salah satu masalah yang menjadi perhatian public dan isu hadirnya terpaan dalam konten-konten tayangan adalah kekerasan, rasisme, kekuatan, dan kekuasaan di kehidupan manusia.
            Hasil temuan di lapangan menujukkan bahwa industri perfilman global lebih banyak berkembang di Amerika terutama ketika Hollywood memasuki masa keemasan sistem studionya. Sejak itu teknologi maupun genre film dunia di Negara dunia ketiga termasuk Asia dipengaruhi oleh Hollywood. Tidak heran dengan kehadiran teknologi televise yang diikuti perkembangan media global membuat industri perfilman dunia melakukan pertunangan dengan media lain. Lalu kemudian dunia media menjadi global sejak 1990-an yang dikuasi oleh beberapa perusahaan besar (TNCs).[1] Proses akumulasi capital yang dilakukan perusahaan besar ini membuat sturktur pasar industri film dunia bersifat oligopolic. Relasi yang muncul antara core (Hollywood) dengan Negara Asia (periferi) adalah kencenderungan ketergantungan mereka terhadap supply film dari Hollywood. Ketergantungan ini sengaja di-maintain oleh pemain-pemain kuat Hollywood yang didukung oleh lembaga-lembaga ekonomi internasional serta armada distribusi internasional yang kuat.
Selanjutnya, Negara Amerika telah berhasil mendominasi pemikiran khalayak bahwa negara mereka menjadi The king of power dalam segala bidang. Aspek-aspek pembentuk kebudayaan dan ideologi seperti cara berpakaian, kebiasaan, cara makan dan sebagainya akan menjadi patron Negara lainnya (Timur) Misalnya, Amerikan mempunyai hobby bermain basket, naik motor besar (Harley Davidson) dan makanan fast food. Hal tersebut berhasil dijual ke seluruh dunia oleh kaum kapitalis. Gaya hidup tersebut kemudian diadopsi oleh berbagai kalangan di seluruh dunia sehingga semakin menggelembungkan akumulasi modal Amerika. Kita juga dapat mellihat beberapa contoh dalam budaya popular yaitu film. Amerika memiliki produksi film Hollywood yang mendominasi perfilman dunia. Salah satunya Walt Disney, adalah film kartun yang popular dan menjadi raja pada produksi film animasi sampai saat ini. Disamping itu, film-film perang juga menjadi budaya popular dan legendaries dunia seperti, Rambo, Marvel, Captain Amerika,
1.2  Perumusan Masalah
1.      Pengambaran Heronisme dalam film-film Hollywood
Hero berarti “a civilian who voluntarily risk his or her own life, knowingly, to an extraordinary degree while saving or attempting to save the live of another person…(seseorang yang dengan sukarela dan sadar mengambil resiko terhadap hidupnya sendiri untuk menyelamatkan orang lain)[2]. Namun untuk menjadi hero, orang tak selalu harus melakukan hal yang luar biasa atau menciptakan karya besar. mengungkapkan dalam abad media, citra adalah segalanya.[3]
Persepsi orang terhadap apa diciptakan dan ditampilkan melalui film-film Hollywood juga lebih sering disodori oleh persepsi “versi Amerika”, seperti ketika penciptaan tokoh hero dan penjahat dalam film laga Amerika yang menampilkan sosok hero adalah berkulit putih, Amerikan dan penjahat berkulit hitam, Asia, Arab, dan Latin. Sehingga film Hollywood mempunyai kekuatan untuk membentuk realitas bahwa hero adalah seorang kulith putih dan penjahat adalah kulit hitam, yang pada akhirnya ideologi ditanamkan ialah ras kulit putih memiliki superioritas dalam melawan para penjahatnya.
Pada sebagian besar film-film Hollywood menggambarkan sesosok hero yang identik dengan maskulinitas. Sosok hero yang ditampilkan pada umumnya adalah laki-laki muda, kulit putih, tampan, dan atletis, contohnya adalah film Lawrence of Arabia yang sangat jelas kelihatan karakter maskulinitasnya di dalam film tersebut.
Symbol hero dalam film-film Hollywood yang direpresentasikan melalui tokoh protagonist lebih sering ditampilkan sebagai sosok yang kuat dengan tubuh berotot karena seorang hero harus melakukan tindakan-tindakan berani dan berbahaya untuk melindungi yang lemah.[4] Hal ini bisa terlihat dalam film Hercules (1959), Assembly (2008), dan Saving Private Ryan (1998). Secara fisik sudah menunjukkan bahwa mereka menggambarkan seorang hero yang ditunjukkan melalui bentuk tubuh. Bentuk tubuh mereka yang kekar, six pack dan badan ideal untuk mereka melakukan tindakan heronisme.
Seperti yang kita ketahui, sebagian besar film Hollywood yang mengangkat heorisme dituangkan berupa propaganda berbentuk film-film jenis perang yang pernah di produksi Hollywood. Bisa kita lihat dengan banyak film-film heroism yang sudah diproduksi Hollywood dari era 50-an hingga sekarang. Salah satu contoh yang bisa diambil yaitu film terkenal yang dibintangi oleh Aktor ternama Silvester Stallone yaitu Rambo atau First Blood. Film itu juga menggambarkan kisah tentara Amerika, yang hanya sendirian mampu mengalahkan beberapa tentara Vietnam. Hollywood mengambil kesempatan untuk menyebarkan pemikirannya atau menrekonstruksi pemikirannya melalui film perang heroic tersebut dimana image tentara Amerika yang buruk menjadi baik dan para penonton yang tidak sadar dan kurang kritis akan beranggapan bahwa ternyata semua tentara Amerika itu hebat dan baik atau mungkin beranggapan bahwa ternyata tentara Amerika tidaklah seburuk yang diberitakan. Bahwa orang-orang yang berkulit putih itu adalah pemimpin yang baik sedangkan orang-orang yang berkulit hitam hanya menjadi pengikut saja.

2.      Representasi orang-orang Timur Tengah dalam film Hollywood
Gambaran masyarakat Timur Tengah, mengalami perkembangan yang beragam di dalam media massa, terutama dalam film-film karya Hollywood. Menurut Jack Shaheen, “Ketika ini berhubungan dengan karakter Arab dalam film Hollywood hanya memiliki satu macam : Arab yang buruk.”[5] Pendapat tersebut juga di dukung dari Sulaiman Arti dengan jurnalnya yang berjudul “The evolution of Hollywood’s representation of Arabs before 9/11 : the relationship between political events an the notion of ‘Otherness’.” [6]
Pada awalnya masyarakat Timur Tengah salah diidentikkan dengan masyarakat yang kental hubungannya dengan benda-benda bersifat magis. Mereka masuk ke dalam jajaran film-film dongeng dan fantasi. “McAlister mengingatkan kita terhadap pengaruh dari Orientalisme khususnya pada periode ini, dalam menciptakan sebuah gambaran oleh Amerika yang telah merepresentasikan Orient sebagai bahan dalam buku anak-anak dan film-film popular” (2005, p.8), “dunia fantasi yang dikatikan dengan karikatur orang Arab yang lucu” (2005, p.9).[7]
Pada tahap kedua, setelah masa perang dunia kedua. Dalam masa-masa ini, Negara Timur Tengah lebih diasosiasikan dengan tanah suci. Film-film yang bergubungan dengan tanah suci Israel mulai mucul, seperti El-Cid (1962), The Ten Commandments (1956).[8] Sehingga penggambaran yang paling tepat pada kurun waktu itu adalah konstruksi Kitab suci yang berhubungan dengan munculnya Israel sebagai tanah suci.
Lalu pada tahap ketiga, Amerika membentuk steorotip yang baru dalam media. Dalam periode ini media Amerika khususnya film-film Hollywood, mempresentasikan Timur Tengah sebagai sosok “asing”. Masyarakat Timur Tengah digambarkan sebagai ancaman dan mereka tergabung dalam melawan kekerasan dari Barat dan aliansi dari Israel. Dalam tahap ini Amerika selalu mengulang-ulang pandangan dalam media, bahwa sekali lagi bangsa Timur Tengah adalah ancaman yang nyata dan bersatu dalam memusuhi dunia Barat. Dimulai pada tahap ini, film-film yang bertemakan politik dan peperangan mulai popular dalam  dunia layar lebar. 
Dalam film-film Hollywood, Amerika selalu digambarkan pelindungi masyarakat Timur Tengah dari teroris dan radikalis Timur Tengah. Peningkatan terorisme Timur Tengah menjadi semakin factual melalui film Holywood “The Air Force One” (1997), dimana masyarakat Timur Tengah membajak pesawat Presiden Amerika Serikat yang melintasi samudera pasifik dengan kepentingan politik tertentu. Film ini mengisahkan aksi heroik James Marshall, Presiden AS yang berhasil menggagalkan usaha pembajakan pesawat Air Force One oleh teroris. Film ini secara eksplisit menunjukkan bagaimana sarat dengan politis, karena mengambil setting penangkapan seorang tokoh radikal Kazakhstan.
Dengan berakhirnya Perang Dingin, Hollywood memfokuskan bangsa Timur Tengah khususnya Arab/Muslim sebagai musuh dari aliansi Amerika, yakni Israel. Semenjak itu, Hollywood membuat genre film thriller yang tidak hanya mencetuskan Arab sebgai karakter yang kejam dan berbahaya, tetapi juga menampilkan mereka pada plot utama. “Sebenarnya, deskripsi Arab yang disajikan hanya untuk mengontraskan kebesaran dari Amerika dengan keterbelakangan dari bangsa Arab yang direpresentasikan dalam film seperti serial Delta Force (1986-1991) yang dibuat di Israel dan juga didanai oleh Israel”[9]. Hingga saat ini-pun, film-film Hollywood selalu menunjukkan dan mencap masyarakat Timur Tengah & Muslim sebagai penjahat internasional yang mengancam dunia.
1.3  Kerangka Pemikiran Teori
1.      Teori Hegemoni Antionio Gramsci dalam Ranah Perfilman Hollywood
Antonio Gramsci (1891-1937) merupakan tokoh eksponen Marxisian yang pemikiran-pemikiran banyak dipergunakan dalam studi kebudayaan di Indonesia. Dalam bukunya Prison Norebooks (1929-1933), gramsci mematahkan tesis utama Marxisme bahwa dominasi kekuasaan tidak selamanya berakar pada ekonomi belaka, melainkan juga karena akar-akar kebudayaan dan politik. (Suhariyadi, Aplikasi teori Antoni Gramsci dalam kajian sosiologi sastra). Dalam focus analisis Gramsci, bagaimana mematahkan penguasaan kesadaran melalui jalan pemaksaan dan kekerasan; dan kedua, penguasaan lewat jalan hegemoni, yaitu kepatuhan dan kesadaran para elemen masyarakat. Menurutnya, keberhasilan kaum elite menyebarkan kekuasaan pengaruh yang hegemoni ini karena didukung oleh organisasi-organisasi infrastruktur yang terkait didalamnya, karena faktor kutural dan politis. Gramsci menjelaskan adanya perbedaan antara konsep “dominasi” dan “hegemoni”, yang mana dominasi merupakan model penguasaan yang ditopang oleh kekuatan fisik, sedangkan hegemoni adalah model penguasaan yang lebih halus, yaitu secara ideologis. Hegemoni adalah sebuah kemenangan yang didapatkan melalui mekanisme konsensus (kesepakatan bersama), dibanding melalui penindasan terhadap kelas sosial. Dengan kata lain, penguasaan dilakukan tidak dengan kekerasan, melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat.
Masih menurut Gramsci, ia berperspektif bahwa kata kunci hegemoni yaitu sebuah sistem pemerintahan suatu Negara yang didasarkan pada pembentukan atau pembinaan consensus melalui kepemimpinan budaya. Artinya, kelompok-kelompok yang terhegemoni menyepakati nilai-nilai ideologi penguasa. Gramsci mengartikan hegemoni itu sendiri sebagai praktik kepemimpinan budaya yang dilakukan oleh golongan berkuasa.[10] Gramsci  menggunakan  istilah  ”hegemoni”  untuk  mengacu  pada  cara  di  mana  kelompok  dominan  dalam  suatu  masyarakat mendapatkan  dukungan  dari  kelompok  subordinasi melalui  proses ”kepemimpinan” intelektual dan moral (Gramsci, 1971: 75). Gramsci menganggap  budaya  sebagai  tempat  terjadinya  pergulatan  antara usaha  perlawanan  kelompok  lemah  dari  dominasi  kelompok dominan dalam masyarakat.
Analisis Gramsci mengenai kapitalisme melihatkan serangkaian peran kaum intelektual yang bekerja atas dasar kapitalisme dengan menempuh kepemimpinan cultural dengan persetujuan massa. Massa tidak melahirkan ideologinya sendiri, melainkan dibantu oleh elit (kelompok yang berkuasa) yang disebutnya sebagai kelas intelektual.
Dengan adanya kemajuan perkembangan teknologi komunikasi massa, media massa pun telah sangat maju. Dalam konteks ini, media ikut campur tangan dalam kehidupan kita secara lebih cepat daripada yang sudah-sudah dan juga memperpendek jarak antara bangsa-negara. Ada berbagai macam ruang dimana manusia dapat saling menyebarkan informasi dan memperoleh informasi. Menciptakan ideologi dan kemudian menyebarkan ideologi. Dewasa ini, saluran informasi tidak hanya didomoniasi oleh lembaga atau institusi resmi saja namun juga personal. Arus homogenisasi yang dibawa arus globalisasi seakan membuat media massa saat ini menjadi seragam, seakan pikiran kritis mereka telah tunduk pada pasar. Contoh lain juga dapat kita saksikan pada film-film Hollywood yang telah mengambil alih beberapa fungsi sosial manusia (masyarakat).
Film tidak hanya sebatas hiburan untuk mengisi waktu luang, namun ia juga dapat membentuk trend dan pola pikir masyarakat. Sekarang ini eksploitasi dunia perfilman Hollywood telah menuju kearah penciptaan supermasi media yang mengancam keberadaan cara pandang objektif dan ruang publik. Hal ini sesuai dengan pandangan Teori Hegemoni; peran media bukan lagi sebagai pengawas pemerintah, tetapi justru menopang keberadaan kaum kapitalis dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka.
Dengan adanya Hegemoni budaya, lahirlah proses imperialisme budaya, sehingga menunjang terjadinya ‘penjajahan’ dalam segala aspek kehidupan.[11] Hal tersebut juga dapat kita rasakan dari dominasi budaya barat dalam merepresentasikan kekuatan mereka, dan menyatakan bahwa budaya mereka adalah budaya adiluhur dunia. Masyarakat khususnya Negara-negara berkembang dipaksa untuk menjadi bagian dari budaya yang dominan tersebut. Kita dapat melihat hal ini dari berapa banyakanya film-film Hollywood yang mendominasi tayangan televise & biskop kita. Biasanya masyarakat dunia ketiga tidak menyadari proses imperialisme budaya yang terjadi. Dan terkadang realitas yang disuguhkan dalam film-film Hollywood seakan menjadi realitas semu. Realitas fiktif yang dapat menggiring masyarakar pada image tertentu. Realitas tersebut tentunya telah dimuati oleh suatu kepentingan.
2.      Cultural Studies 
Cultural Studies merupakan kritik khas Inggris terhadap budaya kontemporer di dalam marxisme Barat. Cultural studies juga memiliki akar gagasannya dengan Marxis mengenai masyarakat dan telah berhasil dalam menyususn gagasan-gagasannya ke berbagai interpretasi kesusastraan (histories) dan antropologis yang pada akhirnya melahirkan berbagai perdebatan terus-menerus pada masa pascaperang dunia II. Hingga pada akhirnya, Cultural Studies menjadi sebuah kajian yang memahami bagaimana fenomena masyarakat kontemporer seperti yang nampak pada budaya bob, media, sub-culture, gaya hidup, konsumerisme, identitas lokal dan sebagainya[12].
Fenomena kontemporer secara nyata ditandai oleh menguatnya budaya massa melalu media komersil, khususnya media televisi. Disamping itu, tumbuhnya media-media baru yang menciptakan perubahan teknologi komunikasi dan informasi serta adanya isu globalisasi yang merupakan gejala fenomena masyarakat kontemporer. Pada tahap kajian, Cultural Studies sering juga disebut sebagai wilayah kajian lintas-disiplin, multi-disiplin, pasca-disiplin, atau anti-disiplin. Dalam berbagai ilmu disiplin diatas, hal tersebut merupakan fenomena pascamodern dari dalam dunia akademis mengenai kaburnya batas-batas antar-disiplin. Hal ini baik adanya karena seringkali “displin” hanya merupakan istilah dalam mengkhususkan sebuah kajian. Cultural Studies menarik gagasan tentang perlintasan antara teori dengan tindakan. Teori ini, memproduksi pengetahuan teoritis sebagai suatu praktik politis. Terdapat pandangan bahwa, pengetahuan tidak pernah menjadi sebuah fenomena netral atau obyektif, melainkan sebagai persoalan dari mana, kepada siapa dan dengan tujuan apa seseorang itu berbicara atau bertindak.[13] Sifat dari lintas-metode adalah sebuah ciri dari cultural studies, namun hal yang lebih berperan sentral disini adalah peran intelektual didalam perubahan itu sendiri.
Kajian yang terkandung di Cultural Studies dalam ranah komunikasi massa, bukan hanya sebuah hal memfokuskan untuk membahas mengenai media serta dampak dimasyarakat saja, namun juga berusaha mengkaji era postmodern yang membahas mengenai isu-isu kontemporer komunikasi dari segi budaya yang menjadi salah satu fenomena komunikasi[14]. Berdasarkan kajian komunikasi massa, ada sebuah pendangan alternative yang mana cultural studies merupakan salah satu pandangan yang selama ini dapat membantu untuk mengembangkan serta memperkaya sudut pandang para peminat komunikasi dalam memahami realitas dan kebudayaan sebagai suatu hal yang saling berkaitan.
Cultural studies berusaha menujukan karakter yang terkonstruksi berupa teks-teks kebudayaan dan berbagai mitos serta ideologi yang tertanam didalamnya, terlebih juga mengharapkan adanya posisi-posisi subjek yang terlahir nantinya. Sebagai pandang teori yang politis, cultural studies diharapkan bisa mengorganisir sehingga dapat membentuk kelompok yang akan menjadi suatu aliansi politik kebudayaan. Lalu dari segi metode penelitian komunikasi, cultural studies ingin memperkuat posisi etnografi, pendekatan tekstual (semiotika dan teori narasi) serta kajian-kajian resepsi/konsumsi sebagai suatu metoe yang lebih relevan untuk diterapkan dalam ilmu sosial.
2.1  Film Hollywood di Tanah Air Dalam Persfektif Cultural Studies
Bukan rahasia umum lagi bahwa film adalah sebuah komoditi pencetak uang yang cukup menggiurkan untuk dijadikan bisnis yang cukup menjanjikan. Tidak dipungkiri bahwa bisnis ini adalah bisnis yang cepat berkembang di era sekarang. Perkembangan ini serta merta didukung oleh kemajuan teknologi dalam dunia perfiman, terutama di bidang produkis dari waktu ke waktu yang membuat pergeseran dalam pembuatan sebuah film. Film dapat berguna dalam berbagai aspek, yaitu entertaining, sarana edukasi dan propaganda politik, semua menjadi satu kesatuan dengan titik balik komersialisasi yang besar-besaran. Tentunya yang kita lihat saat ini, mengacu pada sebuah Industri film yang bisa dibilang menguasi pasar perfilman dunia yaitu Hollywood yang berasal dari Negara Amerika Serikat. Distribusi film-film karya Hollywood sudah mencapai sebagian besar penjuru dunia yang tentunya mendatangkan keuntungan yang banyak terhadap Hollywood berserta orang-orang yang berkecimpung di industri film Hollywood.
Seperti yang kita ketahui bahwa film Hollywood tidak pernah absen dari tayangan bisokop kita bahkan tak kalah stasiun televise juga menjadi sasaran penayangan film-film Hollywood. Film-film Hollywood ini seolah telah menjadi sajian santapan sehari-hari dalam kehidupan kita. Kita dapat melihat dari tayangan yang di sajikan pada channel televise kita, seperti Trans TV yang  menyajikan Bioskop Trans TV setiap malam mulai pukul 19.00 WIB hingga dini hari. Hampir seluruh Program-program yang disajikan dalam Bioskop Trans TV adalah film yang berasal dari Hollywood. Daftar penayangan film Hollywood tersebut ternyata direspon banyak oleh masyarakat. Ratting tayangan film Hollywood menjadi meningkat drastis di ranah Televisi Indonesia. Dengan kata lain, tayangan film Hollywood menjadikan kekuatan dan daya tarik pada siaran telvisi. Hal ini menjadi panutan kepada channel-channel televise lainnya, yang mana menyangkan film-film Hollywood untuk meraup keuntungan institusi media.
Disamping tayangan televise, tayangan bioskop-bioskop-pun di tanah air juga tak kalah untuk menyajikan film Hollywood. Hal ini dapat kita lihat pada tayangan dibioskop yang sering memutar bahkan memakai 2-3 studio untuk menayangkan film Hollywood yang sedang booming. Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi dengan format 3D yang baru-baru ini muncul pada film-film Hollywood yang beredar di bioskop. Lagi-lagi menjadi trend masyarakat untuk menikmaati dan menjadi sensasi menonoton film dengan efek yang lebih nyata ketimbang dengan format biasa (2D). Kebayakan film 3D yang disajikan berasal dari film Hollywood, yang mana efek yang diberikan dalam karya film tersebut menjadi hal gandrungin banyak masyarakat.
1.4 Representasi Ideologi dalam Film Air Force One
Karya-karya film Hollywood sendiri memang sudah banyak diakui dunia, dan begitu memukau tapi bila ditelaah lebih dalam mengenai film-film Hollywood sesungguhnya adalah sebuah penyebaran dan penyeragaman ideologi yang dibentuk melalui sebuah film. Secara umum, film-film Hollywood merepresentasikan ideologi Amerika, yakni ideologi kapitalis. Ideologi tersebut mempengaruhi pangsa pasar untuk ikut menonton film tersebut. Suatu film bisa mengandung unsure politik (kekuasaan), ideologi, sosial, budaya dan juga keagamaan. Sebuah esai ditulis oleh Jean-Lue Comolli dan Jean Narboni, menyangkut Film/Ideologi/Kritik. Mereka berpendapat bahwa setiap film adalah bagian dari sistem ekonomi dan juga bagian dari sistem ideologi. [15]
Tipikal superhero yang dibentuk oleh pencipta film Air Force One, yang kemudain di adaptasi oleh sutradara lewat kisahnya. Air Force One. Saat pesawat elit ini mengankut Presiden Amerika Seritkat yang melintasi samudera pasifik, dibajak pleh sekelompok teroris yang memilki kepentingan politik tertentu. Pesawat tersebut baru saja pulang dari Moskow setelah Presiden menyampaikan pidatonya sebagai jawaban atas ditangkapnya pemimpin Kazakhstan. Para teroris yang menyamar menjadi wartawan ini menyelinap ke pesawat dalam penerbangan kembali ke Amerika Serikat. Aksi teroris tersebut bertujuan untuk menyandera presiden AS sebagai aksi balasan atas ditangkapnya pemimpin mereka. Gibbs (Xander Berkeley) sebagai agen rahasia Amerika yang bekerja sama dengan para teroris Rusia dan membunuh beberapa agen rahasia yang menjaga gudang senjata pesawat, sehingga memungkinkan Korshunov (pemimpin terorisme) dan anak buahnya untuk mengambil senjata di gudang agar dapat menguasai pesawat.
Saat aksi para teroris membuat gaduh dan mengamcam nyawa orang-orang yang berada dialamnya, para pilot mencoba mendaratkan pesawat di Pangkalan Udara Ramstein di Jerman, namun tewas di tembak teroris, lalu para teroris pun mengambil alih kendali pesawat. Saat semua penumpang disandera, Agen rahasia AS mengambil Marshall ke POD agar ia dapat melarikan diri dari pesawat. Semua para penumpang percaya bahwa Marshall telah melarikan diri lewat POD tersebut. Namun, ternyata Marhsall bersembunyi di dalam kargo dan menunggu situasi yang pas untuk menyelamatkan anak, istri dan para sandera.
Korshunov mengkontak Wakil Presiden Amerika Serikat Kathryn Bennet (Gleen Close) akan mengancam membunuh sandera setiap jam-nya sampai Radek di lepaskan. Sementara itu, tanpa sepengetahuan para pembajak, Presiden Marshall menelepon Gedung Putih melalui telepon satelit yang berada di tas penumpang dalam kargo. Ia mengingatkan Bennett untuk tidak bernegosiasi dengan teroris. Ketika Marshall hampir berhasil menyelamatkan keluarga dan para sandera, Marshall tertangkap oleh para teroris lalu ia pun dipaksa untuk menghubungi Bennett.              Bannet diminta untuk menghubungi Presiden Rusia untuk mengeluarkan Radek. Persetujuannya pun di kabulkan. Tetapi Marshall tidak pernah kehabisan akal untuk mencari jalan keluar, ia mengambil pecahan beling yang berada dilantai dan memotong ikatan tali ditangannya. Ia pun berhasil melakukannya, lalu dengan cepat ia menembaki sebagian teroris yang menjaganya. Disamping itu, ia mempunyai rencana untuk terjun darurat menggunakan parasut bersama dengan keluarga dan para sandera lainnya. Sebagian sandera pun berhasil terjun darurat tanpa kecuali anak, istri dan sisa dari agen rahasia AS. Ketika Marshall mencoba menyelamatkan istrinya dengan parasut, Korshunov menarik istrinya dan menyodorkan pistol kebagian kepalanya. Ia mencancam jika Marshall berani melarikan diri tanpa membebaskan Radek, tidak segan-segan ia menembak istrinya. Marshall pun diam dan berpikir bagaimana cara untuk membunuh Moshunov. Akhirnya Marshall begulat dengan Korshunov, ia mencoba melilitkan tali parasutnya keleher Korshunov lalu membuka parasutnya sehingga parusut terbuka dan mencekik Korshunov serta mendorongnya keluar pesawat. 
Ketika Radek menuju pintu keluar penjara dan dijemput oleh Helikopter Rusia, Marshall dengan segera kembali ke ruang komunikasi pesawat untuk mengumumkan bahwa kebebasan Radek dibatalkan karna teroris Rusia telah membajak pesawat Air Force One. Pengumuman pun disiarkan lewat speaker penjara yang pasti Radek mendengarnya, sehingga ia mencoba lari sekecang-kencangnya agar cepat masuk kedalam helicopter namun, aksinya pun gagal, Radek ditembak oleh militer AS. Lalu pada akhirnya, Marshall, anak & istrinya serta sebagian agen rahasianya berhasil diselamatkan.
1.5 Kesimpulan
Melalui pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam memahami peran media televise melalui tayangan film Hollywood adalah hal yang patut diperhatikan, bahwa adanya sebuah Hegemoni yang mendominasi pemikiran masyarakat serta menjadi sebuah fenomenal yang juga terkait dalam proses cultural studies. Proses ideologi dan cultural ini terjadi dimana media merepresentasikannya melalu film Hollywood hingga diterima oleh audience. Proses ini tentunya terjadi dalam ranah yang penuh dengan kepentingan dan kontestasi ideologi.
Banyaknya ragam kelompok berdasarkan gologan ras, kebudayaan, sukubangsa dan keyakinan termasuk juga jender, perbedaan antara siapa ‘saya’ dan siapa ‘dia/kamu’ dan antara siapa ‘kami’ dan siapa ‘mereka’ jelas batas-batasnya, dan selalu diulang dan dipertegas melalui sebuah cerita pada film. Melalui film, stereoptip terus dikembangkan dan menjadi mantap dalam suatu kurun waktu yang tidak terbatas. Disini media menjalankan praktik hegemoni. Melalui film Air Force One mengungkapkan bahwa pandangan ideologi ini berpaham hegemoni. Ideologi tersebut sengaja disebarkan melalui cerita terorisme tentang pembajakan pesawat AS yang mengambil sosok figure Timur Tengah sebagai ancaman dunia. Sehingga secara tidak sadar pemahaman dan penilaian masyarakat terhadap masyarakat Timur Tengah menjadi seragam melalui tayangan film tersebut. Sehingga dengan tulisan ini, diharapkan agar bagaimana seharusnya masyarakat lebih dapat kritis untuk memahami ideologi yang didominasi dalam film dan kepentingan kaum elite.

Referensi
·         Baran,  Stanley  J.  &  Dennis  K.  Davis. (2010). Teori Komunikasi Massa. 5th ed. Penerbit Salemba Humanika, Jagakarsa.
·         Carey, James W. 2002. A Cultural Approach to Communication, dalam Mcquail,  Denis.  McQuail’s  Reader  in  Mass  Communication Theory,  Part  II:  Conceptual  Issues  and  Varieties  of  Approach. Sage Publications, London, hal 36-45.
·         Gramsci,  Antonio.  1971.  Selections  from  Prison  Notebooks.  London: Lawrence & Wishart.
·         McQuail,  Denis.  2002.  McQuail’s  Mass  Communication  Theory  4th Edition. London: Sage Publications.

·         Gramsci, A. 1971.  Selections from the prison  notebooks of Antonio Gramsci. Disunting oleh Quintin Hoare  & Geoffrey Nowell Smith. London: Lawrence and Wishart.

·         Chris Barker. Cultural Studeis, Teori dan Praktik. Bentang Pustaka, Yogyakarta, Februari 2005.



[1] Novi Kurnia, Industri perfilman Indonesia: analisis ekonomi politik terhadap industri perfilman Indonesia dalam persfektif world system theory (http://lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=107398&lokasi=lokal)
[2] )” (Gibson, et all, 2007: 73 dalam www.proquest.com/pqdauto diakses tanggal 15 Desember 2012)
[3] Idi Subandi Ibrahim (2006)
[4] (Adi, 2008: 104).
[5] (Shaheen, 2001).
[7] Ibid.
[8] Ibid
[9] (Boggs & Pollard, 2006, p. 338
[10] Muhadi Sugiono, Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, (Jakarta: Pustaka Pelajar, 2006)
[11] Tuti Widiastuti, Cultural Production: Peran Media Pada Produksi Budaya Massa, (2009).
[12] Stenley J. Baran dan Dennis K. Davis, Teori Komunikasi Massa, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), h. 255
[13] Ibid., h. 269
[14] Ibid., h. 270
[15] (Saul Landau, The Film Industry : Business and Ideology.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar