TEORI
AGENDA SETTING
Teori
ini dipelopori oleh Walter Lipmann (wartawan politik asal Amerika) pada tahun
1992. Ia mengusulkan bahwa “masyarakat menerima fakta bukan sebagaimana adanya,
tapi apa yang mereka anggap sebagai fakta, kenyataan fatamorgana atau
lingkungan palsu. Untuk sebagian besar, kita tidak melihat dulu dan kemudian merumuskan,
tapi kita merumuskan dulu kemudian melihat”. [1]
Juga berdasarkan kepada ide dasar seperti yang dikemukakan Bernard Cohen 1963
dengan pernyataannya yang terkenal bahwa “The
press may not be successful muck of the time in telling people what to think,
but it is stunningly successful in telling its readers what to think about” (media
massa mungkin tidak berhasil mengatakan kepada kita apa yang harus dipikirkan,
tetapi mereka sangat berhasil untuk mengatakan kepada kita hal-hal apa saja
yang harus kita pikirkan.
Denis
McQuail (2000) mengatakan bahwa istilah ‘agenda setting’ diciptakan oleh
Maxwell McCombs dan Donald Shaw (1972, 1993), dua peneliti dari Universitas
North Carolina, untuk menjelaskan gejala atau fenomena kegiatan kamapanye
pemilihan umum (pemilu) yang telah lama diamati dan diteliti oleh kedua sarjana
tersebut.[2]
Penelitian oleh McCombs dan Shaw merupakan tonggak awal perkembangan teori agenda setting. Studi efek media dengan
pendekatan agenda setting sesungguhnya sudah mulai pada tahun 1960’an, namun
popularitas baru muncul pada hasil penelitian karya McCombs dan Donald Shaw mengenai
fungsi khusus media massa.[3]
Dearing
dan Rogers (1996) mendefinisikan agenda setting sebagai: an ongoing competition
among issue protagonist to gain the attention of media professionals, the
public and policy elites[4]
(persaingan terus-menerus di antara berbagai isu penting untuk mendapatkan
perhatian dari para pekerja media, public dan penguasa). Jennings Bryant dan
Susan Thompson (2002) menyatakan agenda setting adalah: A Strong link between
news stories and public issue salience, or the importance placed upon
particular placed upon particular issues (hubungan yang kuat antara berita yang
disampaikan media dengan isu-isu yang dinilai penting oleh public). Lazarsfeld
menyatakan agenda setting sebagai: the power to structure issues[5]
(kekuasaan untuk mengatur berbagai isu). Maxwell McCombs dan Donald Shaw
menyatakan bahwa: mass media have the ability to transfer the salience of items
on their news agendas to the public agenda[6] We
judge as important what the media judge as important[7]
(media massa memiliki kemampuan memindahkan hal-hal penting dari agenda berita
mereka menjadi agenda public. Kita menilai penting apa saja yang dinilai
penting oleh media). Dengan kata lain, teori agenda setting adalah teori efek
komunikasi massa yang memberi pengaruh terhadap masyarakat dan budaya. Media
memberikan isu-isu terpenting dan mengabaikan isu lainnya. Orang cenderung
menerima suatu isu atau berita melalui media massa dan menerima prioritas
susunan isu-isu terpenting yang berbeda-beda.
Menjelang
pemilihan presiden Amerika (1972) Shaw dan McCombs melakuan penelitan di
Chappel Hill, North Carolina. Mereka memepelajari semua hail penelitan tersebut
dam menemukan adannya pertumbuhan atau perkembangan teori agenda setting yang
dapat dibagi ke dalam emapt tahap.[8]
Tahap 1: Studi Awal, di Chappel Hill tahun 1972, Tahap 2: Tahap replikasi,
yaitu tahap pengulangan dan penguatan penelitian mengenai teori agenda setting,
Tahap 3: Kombinasi beberapa faktor yang memengaruhi agenda setting, Tahap 4:
Tahap untuk meneliti bagaimana media menentukan agendanya.
A.
Studi Awal
Pada penelitan mereka di Chappel
Hill, Shaw dan McCombs pada tahun 1972 mereka menggabungkan dua metoda
sekaligus, yaitu analisa isi (untuk mengetahui agenda media) dan survey
terhadap 100 responden untuk mengetahui prioritas agenda publiknya. Studi
tersebut menemukan bukti bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara urutan
prioritas pentingnya isu yang dilansir oleh media di Chapel Hill bersesuaian
dengan urutan prioritas pada responden. Walaupun penelitian tersebut hanya
dapat membuktikan pengaruh kongnitif media atas audience, namun studi agenda
setting tersebut sudah dapat dipakai sebagai upaya untuk mengkaji,
mengevaluasi, dan menjelaskan hubungan antara agenda media dan agenda public.
Mereka menemukan sejumlah hal
kepentingannya berdasarkan presentase jumlah orang yang memilih suatu maslaah,
yaitu kebijakan luar negeri, hukum, dan ketertiban, serta kesejahteraan public.
Kedua peneliti tersebut kemudia mempelajari seluruh isi media massa selama
tingga minggu, yang dilakukan selama periode kampanye untuk melihat isu-isu
yang paling banyak diberitakan, mereka kemudian membandingkan dengan opini pubik.
Hasilnya, mereka menemukan bahwa apa yang dinilai penting oleh warga dan apa
yang dinilai penting oleh media adalah hampir sama atau identik.
B.
Tahap Replikasi
Pada tahun 1997, lima tahun setelah
penelitian pertama, Shaw dan McComb melakukan penelitan lanjutan untuk
mengetahui apakah terdapat hubungan sebab akibat atau timbale balik, yaitu
hubungan yang saling memengaruhi antara apa yang dinilai penting oleh media
(agenda media) dengan apa yang dinilai penting oleh public (agenda pubik) dan
hal-hal apa saja yang memengaruhi hubungan tersebut. Sebagaimana penelitan
pertamanya dilakukan di Chapel Hill, namun kali ini lokasinya di Charlote North
Carolina dengan melakukan survey terhadap calon pemiih sebelum dan sesudah
pemilu.
Dalam
hal ini, agenda setting dapat dibagi ke dalam dua tingkatan (level); agenda
setting level pertama adalah menentukan bagian-bagian atau aspek-aspek dari isu
umum tersebut yang dinilai penting. Level kedua adalah membetitahu kita
mengenai bagiamana cara membingkai isu atau melakukan framing terhadap isu,
yang akan menjadi agenda media dan juga agenda pulik. Misalnya, media
mengemukakan bahwa pemilu yang demokratis sebagai hal yang penting (level
pertama), tetapi media juga menyatakan bahwa tingkat kemiskinan ini media
membingkai isu mengenai bagaimana mencapai pemilu yang demokratis (level
kedua).
C.
Kombinasi Faktor
Penelitan agenda setting tahap ke-3
dilakukan pada saat pemilihan presiden Amerika tahun 1976, dengan melihat
berbagai faktor (contigent factors) yang berpengaruh dalam agenda setting. Para
peneliti mecoba mempelajari hubu8ngan antara agenda para calon dengan agenda
para pemilih berdasarkan latar belakang pemilih. Mereka mencoba mengetahui
bagaimana para pemilih memanang karateristik atau sifat dari setiap kandidat
dan membandingkannya dengan image kandidat sebagaimana yang digambarkan media
massa.
Penelitan dilakukan dengan cara
survey terhadap sejumlah pemilih di berbagai tempat yang dilakukan beberapa
kali dalam waktu yang berbeda untuk menilai faktor-faktor yang berpengaruh
dalam proses agenda setting. Hasil penelitan menunjukkan bahhwa kombinasi
sejumlah faktor, seperti jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan pemilih serta
lokasi geografis dimana mereka tinggal memeberikan pengaruh pada seberapa besar
agenda media massa dapat ditransfer menjadi agenda public (pemilih).
Pada tahap ini, Karen Siune dan Ole
borre (1975) ikut melakuan penelitian untuk mengetahui kompleksitas agenda
setting dalam pemilu di Denmark. [9]
Mereka merekam acara di Tv dan radio serta mewawancarai 1300 pemilih untuk
mengetahui apa yang menurut mereka menjadi agenda public. Dalam penelitan ini,
mereka menemukan tiga jenis pengaruh agenda setting, yaitu representasi,
persistensi, dan persuasi.[10]
Kita dapat mengetahui ketiga jenis pengaruh agenda setting tersebut dalam suatu
proses pemilu yang dapat dibagi ke dalam tiga tahap agenda setting tersebut
dalam suatu proses pemilu yang dapat dibagi ke dalam tiga tahap periode
kampanye, yaitu awal (periode 1), tengah (periode 2), dan akhir (periode 3).
Representasi,
yaitu ukuran atau derajat dalam hal seberapa besar agenda media atau apa yang
dinilai penting oleh media dapat menggambarkan apa yang dianggap penting oleh
masyarakat (agenda publik). Persistensi,
yaitu mempertahankan kesamaan agenda antara apa yang menajdi isu media dan apa
yang menjadi isu publik. Persuasi
yaitu, ketika agenda media memengaruhi agenda public.
D.
Agenda Media
Tahap ke-4 dimulai pada tahun
1980-an dan terus berlangsung hingga saat ini, dengan focus perhatian pada upaya
menjawab pertanyaan mengenai apa yang menjadi sumber agenda media atau dengan
kata lain, faktor-faktor apa yang menentukan agenda media? Menurut Everet
Rogers dan James Dearing (1998), agenda setting merupakan proses linear yang
terdiri atas tiga tahap, yaitu agenda media, agenda public, dan agenda
kebijakan.[11]
·
Penetapan agenda media (media agenda),
yaitu penentuan prioritas isu oleh media massa
·
Media agenda dalam cara tertentu akan
memengaruhi atau berinteraksi dengan apa yang menjadi pikiran public maka
interaksi terebut akan menghasilkan ‘agenda pubik’ (public agenda)
·
Agenda public akan berinteraksi
sedemikian rupa dengan apa yang dinilai penting oleh pengambil kebijakan, yaotu
penerintah, dan interaksi tersebut akan menghasilkan agenda kebijakan (policy
agenda). Agenda media akan memengaruhi agenda public dan pada gilirannya,
agenda public akan memengaruhi agenda kebijakan.
Pandangan
lain dari Stephen Reese (1991) menyatakan bahwa agenda media merupakan hasil
tekanan (pressure) yang berasal dari luar dan dari dalam media itu sendiri.[12]
Dengan kata lain, agenda media sebenarnya terbentuk berdasarkan campuran
sejumlah faktor yang memberikan tekanan kepada media, seperti proses penentuan
program internal, keputusan redaksi dan manajemen, serta berbagai pengaruh
eksternal yang berasal dari sumber non-media, seperti pengaruh individu
tertentu, pengaruh pejabat pemerintah, pemasang iklan dan sponsor.
E. Contoh dari
peristiwa yang relevan mengenai teori agenda setting
“Kasus
Manohara Odelia Pinot”
Menurut teori Agenda Setting ada 3
proses agenda setting yakni media agenda,
public agenda dan policy
agenda, berikut analisa
isu tersebut menurut proses terjadinya agenda setting. Nama Manohara
Odelia Pinot tiba-tiba
melejit di blantika pemberitaan nasional. Nyaris
menyamai berita utama kampanye pilpres 2009.
Hampir seluruh media massa memberitakan
model cantik ini. Kasus Manohara
sebenarnya biasa-biasa saja
pada awalnya, (walaupun KDRT-kekerasan dalam
rumah tangga, sungguh
pun ini sering terjadi pada banyak keluarga, tidak boleh dianggap sebagai hal biasa, tentunya),
tetapi kemudian menjadi
sangat menarik perhatian banyak orang -termasuk kita- karena
ada banyak faktor yang kemudian bisa
dikait-kaitkan dengan kisah
hidup dia, antara
lain kehidupan selebriti, kecantikan,
kekayaan, kekuasaan, ketamakan,
bahkan yang terakhir muncul
dan bisa berbahaya
adalah muatan isu
politik yang masih peka
antara dua negara
tetangga dan bersaudara,
yaitu Indonesia dan Malaysia (Kerajaan Kelantan). Hampir di
semua program acara
berita stasiun televisi
seperti RCTI, SCTV, METRO TV, ANTV, TVONE, INDOSIAR DAN TRANSTV memberikan liputan
tentang Manohara. Berita tersebut
pun menjadi topik hangat
yang diperbincangkan oleh hampir
setiap orang. Hampir
tidak ada orang
yang tidak tahu
tentang masalah ini, pro dan
kontra pun muncul dalam masyarakat (Rata-rata menyatakan dukungan
kepada Manohara). Bahkan
berita tersebut menjadi headline
dan tajuk rencana dibeberapa surat kabar. Fenomena ini
merupakan gambaran dari
betapa kuatnya pengaruh media
massa dalam pembentukan opini masyarakat. Media massa mempunyai kemampuan untuk memilih dan menekankan topic tertentu yang
dianggapnya penting (menetapkan
‘agenda’/agenda media) sehingga membuat publik berpikir bahwa isu yang
dipilih media itu penting dan menjadi agenda publik. Setelah isu
tersebut ramai diberitakan
oleh berbagai media Khalayak pun
terkena terpaan media sehingga
dampaknya berita tersebut
menjadi akrab ditelinga
khalayak dan juga
didiskusikan atau dibahas oleh
masyarakat hampir dari semua kalangan. Hampir
di setiap tempat, entah
itu di kantor,
kampus, maupun di tempat
umum berita tersebut menjadi bahan pembicaraan public. Artinya berita
atau Kasus Manohara
yang diagendakan media akhirnya menjadi ‘agenda publik.’ Para
pemimpin negeri ini
pun ikut berkomentar
tentang kasus rumah tangga
ini. Mulai dari
Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, wapres Jusuf Kalla, Kedubes RI di Malaysia, mabes Polri,
sampai DPR RI pun ikut
berbicara dan kabarnya
akan meminta penjelasan resmi dari
Kedubes RI di
Malaysia karena menyebarkan
fitnah yang mengatakan bahwa Manohara
baik – baik saja. Dengan demikian kasus
ini sudah merambah ke area politik dan menjadi ‘policy agenda.’
F.
Kesimpulan
Dalam
mencermati berita yang sedang booming di media, teori agenda setting masih
cukup relevan untuk menilai efek komunikasi massa saat ini. Contoh yang sangat
bagus dalam hal ini adalah kasus manohara, karena kasus ini bermula dari ranah
antar personal, yaitu KDRT, yang kemudian diekspos media (karena melibatkan
tokoh ternama). Dari media agenda menjadi agenda public dan sekarang bergerak
ranah politik dan menjadi policy agenda.
Sesungguhnya
berita maupun trend yang berkembang di masyarakat seuntuhnya diatur oleh media
massa. Jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan
memengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Dari beberapa asumsi mengenai
efek komunikasi massa, teori agenda setting lah salah satu teori yang terus
bertahan dan berkembang. Menurut teori agenda setting, media massa dapat
memengaruhi agenda public atau masyarakat. dari berbagai topic yang dimuat di
media massa, topic yang mendapat perhatian lebih banyak dari medialah yang akan
menjadi lebih akrab bagi masyarakat dan dianggap penting pada periode tertentu,
Hal ini terbukti pada kasus pemberitaan kasus Manohara.
[2]
Denus McQuail, McQuail’s Mass Communication Theory, 4th Edition,
Sage Publications, 2000. Hal 455.
[3]
Bernard C. Cohen, The press and foreign Policy, Princeton University, 1963. Hal
13
[4]
Everett M. Rogers dan James W. Dearing. “Agenda Setting Research: Where Has it
Been, Where is it Going?” dalam Communication Yearbook 11, ed. James A.
Andreson, Sage, 1998.
[5]
Lazarsfeld, People’s Choice, dalam McQuali’s Mass Communication Theory. Hal.
455
[6] Ibid.
[7]
Maxwell McCombs dan Donald Shaw, A Progress Report on Agenda setting Research,
dalam E.M. Griffin, A First Look, ibid., hal 390-400
[8] Jennings
Bryant dan Susan Thompson, Fundamentals of Media Effect, Hal. 142-146.
[9]
Karen siune dan Ole Borre, “Setting the Agenda for a Danish Election”, Journal
of Communication 25, 1975. Hal 65-73.
[10]
Karen Siune dan Ole Borre, Setting the Agenda, Ibid.,
[11]
Everett M. Roggers dan James W. Dearing,”Agenda setting Research: Where has it
Been, Where is it Going? Dalam Communication Yearbook 11, ed. James A.
Andreson, Sage, 1988, op. cit.
[12]
Stephen D. Reese, “Setting the Media’s Agenda: A Power Balance Perspective”,
dalam Communication Yearbook 11, ed. James A. Andersin, Sage, 1991.
terimakasih mbak untuk refensinya
BalasHapusKoreksi ka, Teori ini dipelopori oleh Walter Lipmann (wartawan politik asal Amerika) pada tahun 1922 bukan 1992.
BalasHapusmakasih ka, ini cukup membantu dari beberapa artikel.